Sejarah Wawancara Kerja: Dari Awal Mula hingga Praktik Modern
Wawancara kerja adalah salah satu metode seleksi yang paling umum digunakan dalam proses rekrutmen saat ini. Namun, tahukah kamu bahwa praktik ini memiliki sejarah yang panjang dan menarik? Wawancara kerja tidak selalu menjadi bagian dari proses perekrutan. Mari kita telusuri bagaimana wawancara kerja berkembang menjadi bagian penting dari dunia kerja modern.
1. Awal Mula: Industri dan Kebutuhan Seleksi
Wawancara kerja, seperti yang kita kenal sekarang, mulai
berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sebelumnya, proses
perekrutan seringkali berdasarkan rekomendasi pribadi atau observasi langsung
oleh pemilik usaha. Dengan munculnya Revolusi Industri, terjadi peningkatan
besar dalam permintaan tenaga kerja. Perusahaan membutuhkan cara yang lebih
efisien untuk menilai calon pekerja, terutama ketika skala bisnis mulai
membesar dan menjadi lebih kompleks.
2. Henry Ford dan Standardisasi Seleksi
Salah satu tokoh penting dalam sejarah wawancara kerja
adalah Henry Ford, pendiri Ford Motor Company. Pada awal abad ke-20, Ford mulai
menerapkan wawancara sebagai bagian dari proses seleksi di pabriknya. Ia
memahami bahwa memilih pekerja yang tepat adalah kunci untuk menjaga
produktivitas dan kualitas. Wawancara yang dilakukan Ford bukan hanya menilai
keterampilan teknis, tetapi juga karakter dan kemampuan adaptasi pekerja
terhadap budaya perusahaan.
Ford adalah salah satu pengusaha pertama yang memperkenalkan
gagasan bahwa wawancara kerja harus dilakukan secara sistematis. Hal ini
memungkinkan perusahaan untuk menilai calon pekerja secara konsisten dan
objektif, yang pada akhirnya berkontribusi pada keberhasilan bisnisnya.
3. Perkembangan pada Abad ke-20
Seiring berkembangnya dunia bisnis dan ilmu manajemen,
wawancara kerja menjadi semakin populer. Pada pertengahan abad ke-20, wawancara
mulai digunakan secara luas oleh berbagai perusahaan di seluruh dunia. Selama periode ini, para psikolog industri
juga mulai tertarik pada proses seleksi ini. Mereka mengembangkan berbagai
teori dan metode untuk meningkatkan efektivitas wawancara kerja.
Salah satu
perkembangan penting adalah pengenalan wawancara terstruktur, di mana
pertanyaan-pertanyaan dirancang untuk menilai aspek-aspek spesifik dari calon
pekerja. Wawancara terstruktur membantu mengurangi bias dan meningkatkan
keandalan penilaian. Selain itu, wawancara berbasis kompetensi mulai
diterapkan, di mana calon pekerja diminta untuk memberikan contoh konkret
tentang bagaimana mereka menangani situasi tertentu di masa lalu.
4. Wawancara Kerja di Era Digital
Memasuki abad
ke-21, wawancara kerja terus berkembang dengan adopsi teknologi digital.
Perusahaan mulai menggunakan wawancara video, baik secara langsung melalui
platform seperti Skype dan Zoom, maupun wawancara yang direkam sebelumnya. Hal
ini memberikan fleksibilitas baik bagi perusahaan maupun calon pekerja,
terutama dalam konteks globalisasi di mana kandidat dan perusahaan bisa berada
di lokasi yang berbeda.
Selain itu,
penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam wawancara kerja mulai meningkat. AI
digunakan untuk menilai bahasa tubuh, tone suara, dan bahkan kata-kata yang
digunakan oleh kandidat. Meskipun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan,
banyak perusahaan yang mulai menggunakannya untuk menyaring kandidat di tahap
awal seleksi.
Kesimpulan
Dari awal mula yang sederhana di era Revolusi Industri hingga praktik modern yang canggih, wawancara kerja telah mengalami transformasi besar. Praktik ini kini menjadi salah satu alat utama dalam proses seleksi pekerja, membantu perusahaan menemukan individu yang paling sesuai untuk peran yang tersedia. Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, wawancara kerja kemungkinan akan terus berkembang, namun tujuannya tetap sama: menemukan orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat.
0 Komentar